Jumat, 10 Juni 2011

NGINUMAN DI WARUNG (Socioculture Series # 1)



Eksistensi warung sebagai salah satu wadah sosialisasi warga kampung masih sangat kental terasa di daerah-daerah pinggiran kota besar di Kalimantan Selatan ataupun daerah Banjar Pahuluan dimana kampung-kampungnya masih ditinggali oleh mayoritas orang Banjar asli. Sedangkan warung-warung minum di kota besar seperti Banjarmasin sebagian sudah terjadi pergeseran “fungsi sosial” yaitu hanya sebagai tempat istirahat sesaat bagi orang-orang yang sedang melintas yang notabene kebanyakan bukan warga kampung setempat.
Nginuman berasal dari kata minum dan nginuman lebih menunjukkan kepada sebuah aktivitas bersantai sambil minum bersama-sama. Sedangkan warung yang dimaksud di sini adalah kedai atau sebuah tempat berjualan sederhana yang menyediakan menu-menu sederhana seperti teh, kopi, dan satrup (sirup) yang menemani berbagai macam wadai produksi rumahan seperti pais pisang, gaguduh, lempeng, untuk, kacang jaruk dan lain sebagainya. Atau jika warung tersebut lebih lengkap akan tersedia lapat, lamang, nasi bungkus dengan lauk ikan haruan, hintalu masak habang atau hintalu jaruk. Jika pada fragmen kisah ‘Si Palui’ yang terbit setiap hari di harian Banjarmasin Post kebanyakan mengisahkan bahwa si empunya warung biasanya digambarkan sebagai sosok wanita muda yang lamak mungkal dengan panggilan acil atau aluh dan berdandan yang sedikit seronok serta genit, akan tetapi tidaklah semuanya selalu seperti itu pada kenyataanya. Karena banyak pula warung minum yang dilayani oleh laki-laki dengan panggilan paman atau julak. Namun demikian sah-sah sajalah jika pemilik warung mempekerjakan penjaga warung wanita yang sedikit atraktif penampilannya untuk menarik para pelanggan.
Setiap orang bisa saja membuka warung minum ini, sehingga dalam satu lingkungan perkampungan mungkin saja terdapat beberapa buah warung minum. Lokasi warung minum ini umumnya berada di depan rumah tinggal ataupun tempat-tempat lain yang dinilai strategis serta banyak orang yang berlalu lalang. Bangunan warung dapat berupa bangunan permanen ataupun bangunan sederhana dari kayu dan beratap daun rumbia, dilengkapi dengan segala perabotan warung seperti bangku dan meja kayu panjang dimana di atas meja tersebut diletakkan lemari kayu dengan kaca geser untuk membukanya, sehingga para pembeli bisa mengambil sendiri pilihan wadai yang disukainya. Pada bagian belakang warung biasanya terdapat sebuah dapur atau kompor untuk memanaskan air beserta tempat untuk mencuci sendok, gelas dan piring kotor. Bila warung tersebut cukup ramai pembeli setiap harinya, dapat dikenali dengan bangku panjangnya yang licin mengkilap karena sering diduduki para pelanggan, natural sekali.
Umumnya warung-warung ini mulai buka pada pagi hari hingga sore, namun demikian ada pula warung yang buka hingga malam hari. Para pelanggan warung biasanya berdatangan pada pagi hari untuk menikmati sarapan sebelum mereka melanjutkan aktifitasnya seperti ke pahumaan ataupun aktifitas perniagaan lain seperti pedagang keliling dan pedagang di pasar. Waktu ke warung yang lainnya adalah menjelang tengah hari, biasanya yang mampir pada saat siang hari adalah orang-orang yang kebetulan lewat dan ingin istirahat dalam perjalanan. Waktu ke warung yang paling tepat untuk berbaur dengan warga kampung adalah sore sebelum Magrib atau malam hari setelah Isya, karena pada saat itulah biasanya warga kampung atau bahkan kadang tetuha kampungpun sedang bersantai minum kopi di warung.
Topik pembicaraan di warung minum juga beragam, mulai dari isu-isu lokal kampung hingga ke topik yang ‘cukup serius’ seperti personal assessment pada masing-masing calon bupati atau walikota bila sedang ramai-ramainya pilkada, ataupun sekedar bercanda-canda dan tertawa bersama dengan kisah mangalabio atau mangabuau. Untuk membaur dengan warga kampung tidaklah sulit, karena orang Banjar memiliki sifat terbuka, gemar bercerita dan mudah berteman. Dengan banyaknya warga kampung yang singgah di warung dan saling bertukar cerita antar sesama, maka tak heran bila si empunya warung minum adalah sumber berbagai macam informasi baik itu yang hanya berupa gosip lokal kampung, rencana pembangunan kampung, karasmin hingga saruan perkawinan atau selamatan haji.

Keterangan:

Wadai: penganan, jajanan, kue-kue

Pais pisang : pepes pisang

Gaguduh: pisang goreng

Hintalu jaruk: telor asin

Ikan haruan: ikan gabus

Lapat: nasi yang dimasak seperti lontong dengan bentuk persegi

Lamang: lemang (ketan)

Lamak mungkal : montok, sintal

Acil: panggilan untuk wanita yang lebih muda dari ibu

Aluh: panggilan untuk anak perempuan (Jawa: nduk)

Julak: panggilan untuk pria yang lebih tua dari ayah

Dapur: sebuah tungku tradisional terbuat dari tanah liat

Pahumaan: sawah, ladang

Tetuha: orang yang dituakan, tokoh masyarakat

Mangalabio: kisah-kisah lucu

Mangabuau: membanyol

Karasmin: acara hiburan rakyat biasanya di panggung terbuka

Saruan: undangan

Banjar Pahuluan: orang Banjar yang tinggal atau berasal dari daerah hulu sungai

LINKAGES
Blog Advertising

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar