Selasa, 21 Juni 2011

MANURIH GATAH (Socioculture Series # 4)



Manurih gatah (menyadap karet) dan rapun gatah sudah sangat akrab dikenal dan banyak masyarakat di Kalimantan Selatan yang menggantungkan kehidupannya pada dua hal tersebut. Rapun gatah yang dikenal masyarakat ini tak lain adalah tanaman karet (Hevea brasiliensis), yang tidak hanya hasil utamanya berupa getah namun juga sangat digemari kayunya sebagai kayu bakar disamping kayu lain dari jenis kayu Galam dan Kelapa oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Kayu gatah ini sangat digemari sebagai kayu bakar karena sifat kayunya yang mengandung getah sehingga mudah terbakar serta tidak banyak mengeluarkan asap.

Hampir seluruh wilayah di propinsi Kalimantan Selatan komoditas tanaman karet ini dibudidayakan baik itu oleh perusahan besar swasta ataupun milik masyarakat. Sentra-sentra perkebunan karet di Kalimantan Selatan ada di kabupaten Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Pulau Laut serta daerah hulu sungai seperti Tapin, Kandangan, Balangan dan Tanjung.

Meluasnya pertanaman komoditas karet di Kalimantan Selatan ini tidak lepas dari jasa seorang tokoh putra daerah yang juga mantan Menteri Agraria dalam kabinet Ali Sostroamidjoyo (1952-1955) di era pemerintahan Presiden Soekarno yaitu H. Mohammad Hanafiah. Awalnya H. Mohammad Hanafiah yang lahir di Kandangan tanggal 17 Juni 1904 mengeksplorasi dan mensosialisasikan tanaman karet alam sebelum ditemukan generasi klon-klon unggul saat ini. Beliau adalah seseorang yang terpelajar pada masanya, setelah tamat dari Governement School di Kelua tahun 1915, beliau meneruskan pendidikannya di OSVIA (Opleiding School Voor Indlansche Ambtenaren) atau sekolah pamong khusus bumiputera di Makasar selama 6 tahun. Pada tahun 1929 beliau mendapatkan tugas belajar dari pemerintah Hindia Belanda di sebuah akademi pamong praja lanjutan yaitu Bestuurs Academie di Batavia hingga tahun 1931. Karir beliaupun terbilang cemerlang, sebelum menjabat sebagai Menteri Agraria diantaranya beliau pernah menjabat sebagai Residen Kalimantan Selatan tahun 1950 dan Residen Sumatera Selatan tahun 1951, dan kemudian diangkat menjadi pegawai tinggi pada kementerian pertanian yang merangkap sebagai Direktur Yayasan Karet Rakyat Pusat di Jakarta serta pimpinan Balai Penelitian dan Pemakaian Karet (INIRO) di Bogor.

Karena obsesi beliau yang sangat besar untuk memajukan tanah Banjar, sejak awal tahun 1930 an beliau tidak hanya berkutat pada sistem budidaya karet saja namun juga merintis usaha-usaha rakyat berupa industri processing getah karet dengan mempelopori berdirinya rumah asap rakyat pertama di Kalimantan Selatan dan terus mendorongnya hingga mencapai 700 an unit rumah asap rakyat di Kalimantan Selatan pada tahun 1934.

Atas usaha beliau, hingga tahun tersebut usaha budidaya tanaman karet rakyat di Kalimantan selatan telah mencapai 110.000 ha dengan produksi 60.000 ton yang sebagian besar diekspor ke luar negeri. Atas prestasi beliau tersebut, beliau terpilih menjadi anggota Plaatselijk Rubber Commissie (Komisi Karet Kabupaten) di Amuntai, kemudian Gewestelijk Rubber Commissie (Komisi Karet Propinsi) di Banjarmasin dan akhirnya di Central Rubber Commissie (Komisi Karet Pusat) di Jakarta. Komisi ini bekerja untuk mengatur dan meningkatkan produksi serta mutu karet rakyat. Jenis-jenis karet unggul di Kalimantan Selatan mulai disebar luaskan pada masyarakat saat beliau menjabat sebagai Direktur Yayasan Karet Rakyat tahun 1951.

Hingga kini tanaman karet tetap menjadi unggulan komoditas perkebunan di Kalimantan Selatan, ini ditandai dengan tetap tingginya permintaan pengadaan klon-klon karet unggul oleh masyarakat pada berbagai proyek rehabilitasi lahan atau penghijauan di berbagai instansi daerah seperti kehutanan dan perkebunan. Tingginya permintaan akan klon karet yang tidak hanya dari Kalimantan Selatan saja namun juga dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, oleh sebab itu maka mendorong timbulnya usaha-usaha penangkaran klon karet di Kalimantan Selatan. Sentra-sentra penangkar klon karet di Kalimantan Selatan ada di beberapa tempat seperti Tanah Laut (Bentok Darat, Batu Ampar, Tajau Pecah), Tapin (Pantai Cabi) dan beberapa lokasi di Tabalong (Kembang Kuning).

Sedemikian melekatnya tanaman karet pada masyarakat Kalimantan Selatan sehingga menimbulkan banyak aktifitas bisnis di dalamnya mulai dari penangkaran yang meliputi hal yang paling penting yaitu tenaga ahli okulasi dengan upah Rp. 300 – Rp. 500 tiap batang yang berhasil di okulasi, penyedia okulasi mata tidur (OMT) hingga bibit siap tanam (payung 1 atau payung 2). Kemudian sarana produksi berupa pupuk, herbisida, polybag, mangkok sadap, cuka getah (pembeku getah) hingga zat kimia perangsang getah karet. Dan tahap produksi berupa penyedia tenaga sadap yang upahnya sistem bagi hasil 50 : 50 dengan pemilik kebun, dan pedagang pengepul getah mengumpulkan getah dari para petani dan disetorkan ke pabrik pengolahan.

Jadi meskipun di tengah kesunyian sentra-sentra perkebunan karet rakyat di Kalimantan Selatan tanpa disadari ternyata banyak sekali rupiah yang beredar dan berputar di dalamnya. Indikator lain yang memperlihatkan bahwa bertani karet sangat memakmurkan adalah tingkat kepemilikan sepeda motor keluaran terbaru yang mencapai 1 – 2 buah sepeda motor tiap keluarga petani karet di pedesaan. Ada lelucon yang sering dilontarkan pada para petani karet di Kalimantan Selatan; bagaimana tidak kaya, petani karet itu penghasilannya bukan lagi bilangan ratus ribu atau juta namun mencapai beberapa M per hari, maksudnya M di sini bukanlah milyar akan tetapi ember.



Blog Advertising

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar