Kamis, 08 November 2012

KE PALANGKARAYA LEWAT SUNGAI (Seri Sejarah # 8)



“Ka Palangka jalan Banyu...” atau Ke Palangkaraya Lewat Sungai itu kata-kata yang sering kita dengar di era sebelum akhir dekade 90 ‘an, dimana saat itu adalah masa-masa transisi sarana dan prasarana transportasi dari Banjarmasin menuju ibu kota Kalimantan Tengah Palangkaraya. Pada saat itu pembangunan jalan yang menghubungkan antara kota Banjarmasin – Palangkaraya sedang berlangsung, dimana sebenarnya badan jalan itu sendiri sudah terbentuk namun masih belum layak dilewati dengan nyaman menggunakan mobil, dan apabila hujan tiba maka hanya mobil berpenggerak 4 roda saja yang sanggup melintasi jalan tersebut. Jika saat ini waktu tempuh antara kota Banjarmasin – Palangkaraya adalah sekitar 4 jam, maka pada saat itu waktu tempuh dengan kondisi jalan seperti itu dapat menghabiskan waktu 2 kali lipat atau bahkan lebih. Sarana transportasi air sebenarnya telah lama di adaptasi oleh masyarakat di Kalimantan yang mana Kalimantan telah identik dengan sungainya yang besar-besar ataupun rawa-rawa yang luas. Sehingga sarana transportasi air dari berbagai ukuran atau model merupakan sarana harian baik untuk pribadi ataupun keperluan komersial angkutan barang dan penumpang.

Kota Banjarmasin di era tersebut bisa dianggap sebagai gerbang perniagaan di Kalimantan dimana barang-barang pabrikan kebutuhan sehari-hari yang didatangkan dari pulau Jawa akan dibongkar di pelabuhan Banjarmasin dan kemudian diteruskan dengan jaringan distribusi barang, demikian pula sebaliknya barang-barang berupa bahan mentah hasil alam seperti hasil bumi dan produk-produk kayu menuju Jawa akan diangkut dari pelabuhan Banjarmasin. Karena menjadi pusat perniagaan maka kota Banjarmasin menjadi sangat ramai dikunjungi masyarakat yang hendak berbelanja barang baik dari pelosok Kalimantan Selatan sendiri ataupun dari propinsi lain seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Jalur lalu lintas air baik barang ataupun penumpang dari Banjarmasin ke Palangkaraya melalui beberapa jalur sungai; sungai Martapura, sungai Barito, sungai Kapuas dan sungai Kahayan. Dermaga pemberangkatan speedboat dulu terletak di sekitar belakang Bank Mandiri Jl. Lambung Mangkurat, dermaga Tangkalasa ada di sekitar pasar Ujung Murung, sedangkan dermaga bus air ada di dermaga Banjar Raya Jl. Barito Hulu, Pelambuan Banjarmasin Barat yang semuanya berada di badan sungai Martapura. Jalur sungai yang dilalui moda transportasi ini adalah menyusuri sungai Martapura yang bermuara ke sungai Barito di sekitar pelabuhan Trisakti, atau untuk speedboat karena relatif kecil dapat lewat jalan pintas melalui cabang sungai Martapura di sekitar Pasar Lama yang juga bermuara ke sungai Barito di sekitar depo Pertamina. Di sungai Barito menyusur ke bagian hulu hingga sekitar pulau Kambang (jembatan Barito sekarang) masuk ke sebuah anjir (terusan/kanal buatan) yang bernama Anjir Serapat di 3° 13’ 37,30” S - 114° 32’ 36,5” T sepanjang kurang lebih 27 km hingga tembus ke kota Kuala Kapuas yang berada di pertemuan dua sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Katingan, dari pertigaan sungai tersebut masuk menyusuri ke bagian hulu sungai Kapuas melewati Pulau Telo masuk ke Anjir Kelampan di 2° 49’ 16,41” S - 114° 21’ 19,42” T sepanjang kurang lebih 15 km hingga tembus ke sungai Kahayan di sekitar Pelindo Pulang Pisau. Di badan sungai Kahayan ini menyusur ke arah bagian hulu hingga dermaga kota Palangkaraya di sekitar 2° 12’ 13,36” S - 113° 56’ 22, 26” T.

Untuk angkutan barang dan penumpang melalui sungai dari Banjarmasin ke Palangkaraya terdapat 3 jenis angkutan berdasarkan kebutuhan penumpang; (1) speedboat dengan mesin hingga 400 PK berpenumpang 30 orang, biasanya sarana transportasi speedboat ini hanya melayani penumpang saja serta tidak menaikkan atau menurunkan penumpang di tengah jalan, waktu tempuh Banjarmasin – Palangkaraya kurang lebih 5 jam (2) Long Boat atau sering orang menyebut “Tangkalasa” melayani 35 orang penumpang dengan barang bawaan, seperti angkutan umum di darat Tangkalasa akan menaikkan atau menurunkan penumpang di desa-desa ataupun kota yang dilaluinya sehingga waktu tempuhnya jauh lebih lama dibanding dengan speedboat (3) Bus air, dengan kapasitas penumpang hingga 100 orang dengan banyak barang bawaan (dagangan), kecepatan bus air ini jauh lebih lambat bila dibandingkan Tangkalasa atau speedboat ditambah bus air ini juga menaikkan atau menurunkan penumpang di jalan sehingga waktu tempuh dari Banjarmasin – Palangkaraya mencapai puluhan jam.

Seperti layaknya perjalanan jarak jauh antar kota di darat, yang pastinya akan membutuhkan waktu beberapa saat untuk beristirahat untuk penumpang ataupun pengemudi, demikian pula trayek sungai Banjarmasin – Palangkaraya ada beberapa tempat favorit untuk beristirahat penumpang dan motoris (pengemudi speedboat/Tangkalasa/bus air) yaitu di Kuala Kapuas dan di Pulang Pisau yang mana keduanya masuk dalam wilayah Kalimantan Tengah. Tempat beristirahat tersebut berupa rumah lanting terapung di tepi sungai yang berfungsi sebagai tempat makan yang menyediakan berbagai kuliner sungai khas Kalimantan seperti pais baung/patin, gangan asam baung/patin, udang dan berbagai jenis ikan bakar ataupun goreng.

Di masa itu lalu lintas sungai masih sangat ramai sehingga geliat bisnis transportasi sungai menjadi sangat maju yang diikuti bisnis-bisnis lain dari warung makan terapung, kios BBM terapung, dan lain-lain. Kini seiring dengan semakin lancarnya jalur jalan darat & jembatan yang menghubungkan Banjarmasin dan Palangkaraya semakin surut pula ramainya kegiatan bisnis di jalur sungai tersebut termasuk matinya bisnis ferry penyeberangan yang dikelola ASDP ataupun masyarakat untuk menyeberangi 3 sungai (Barito,  Katingan & Kahayan). Di satu sisi masyarakat merasa senang dengan lancarnya arus lalu lintas jalan raya yang dapat mempersingkat waktu perjalanan dengan biaya lebih murah, namun sebaiknya jalur sungai dapat tetap dipertahankan sebagai jalur alternatif yang paling tidak setara dari segi biaya sehingga masyarakat masih mau menggunakan jalur tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar