Jumat, 01 Juli 2011

BARUMAH DI LANTING (Socioculture Series # 6)




Sesuai dengan namanya kota seribu sungai, kota Banjarmasin terletak di dekat muara sungai Barito dimana sungai Barito ini banyak sekali memiliki anak-anak sungai yang kesemuanya bersatu dalam aliran raksasa Barito menuju laut lepas yaitu laut Jawa.

Kondisi geografis Banjarmasin dimana ketinggian tempat kota Banjarmasin adalah sama atau bahkan lebih rendah dari permukaan laut, sehingga kota ini lebih dominan air ketimbang daratannya. Karena dominan air maka sejak dahulu lalu lintas melalui jalur sungai banyak digunakan untuk tranportasi baik barang dan jasa. Hingga menjelang akhir tahun 90 an jalur darat Banjarmasin – Palangkaraya baru bisa dilalui, dimana sebelumnya arus barang dan penumpang harus ditempuh dengan menggunakan speedboat atau bus air.

Karena ramainya traffic di sungai, maka tidaklah mengherankan jika aktifitas kehidupan sehari-hari warga Kalimantan Selatan tidak dapat dilepaskan dari sungai hingga ada sebagian masyarakat Kalsel yang prefer tinggal di sungai dengan membangun rumah lanting. Lanting yang dalam arti harfiahnya adalah rakit (raft) yang merujuk pada sebuah alat pengapung di dalam air. Namun yang dimaksud rumah lanting di sini adalah sebuah konstruksi rumah tinggal yang dibuat berpondasikan kayu yang mengapung di atas sungai. Pondasi rumah lanting terbuat dari kayu gelondongan (log) berukuran besar dengan diameter 1 meter atau lebih dengan panjang tergantung ukuran rumah yang akan dibuat sehingga bangunan bisa mengapung, dimana umumnya ukuran rumah lanting 4 x 6 meter. Kayu pondasi sebagai pelampung dipilih dari jenis kayu terapung yang tahan air umumnya dari jenis Meranti merah (Shorea spp), sedangkan untuk konstruksi badan rumah digunakan dari berbagai jenis kayu lain seperti Ulin, Keruing, Balangeran dll.

Rumah lanting ini dilengkapi dengan tambatan tali atau sling baja yang diikat antara rumah lanting dengan sebuah patok besar di tebing sungai agar tidak hanyut terbawa arus sungai. Dan rumah lanting ini akan mengikuti tinggi muka air sungai, dimana apabila muka air sungai tinggi maka rumah lanting akan sejajar dengan daratan tebing sungai. Namun apabila muka air sungai surut maka rumah lanting ini akan turun jauh beberapa meter di bawah tepi tebing sungai, sehingga penghuni rumah lanting akan sedikit bersusah payah naik turun titian atau tangga bila ada keperluan di darat.

Aktifitas keseharian di rumah lanting tidaklah berbeda dengan aktifitas harian di rumah seperti biasa, jika di darat anak-anak akan bermain di halaman rumah maka anak-anak yang tinggal di lanting akan bermain di air sepanjang hari dan untuk itu maka anak-anak tersebut umumnya sudah sangat mahir berenang sejak kecil. Selain tempat tinggal para penghuni rumah lanting umumnya menggunakan rumah lantingnya sebagai tempat berniaga dengan memanfaatkan jalur sungai yang ramai dilalui transportasi air berupa speedboat, kelotok ataupun bus air. Berbagai macam perniagaan dapat dilakukan di lanting mulai toko kelontong, spare part mesin kendaraan air, bengkel & stasiun BBM, rumah makan hingga penginapan. Para pembeli yang berbelanja pun harus menggunakan sampan kecil yang didayung dengan tangan (jukung) untuk pindah dari satu toko ke toko yang lain, sehingga umumnya disamping sangat mahir berenang masyarakat inipun mahir menggunakan alat transportasi air berupa jukung atau pun yang sampan bermesin (kelotok) dan speedboat.



Sosok Seorang Pelantingan

Pelantingan? Cari Kai Salam. Jangan lihat penampilannya, karena orang mungkin akan ragu memanfaatklan jasanya mengarungi ganasnya jeram Loksado. Namun bagi warga setempat, dialah ’sesepuh’ joki lanting paling andal. Memang sepintas ia sudah terlihat sepuh. Kerutan diwajahnya banyak terlihat, ditambah lagi pipinya yang kempot saat ia mengisap rokok, semakin menguatkan kesan tuanya.

Baca selengkapnya......



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar