Minggu, 15 Maret 2015

BAHAN PANGAN ALTERNATIF DARI KALIMANTAN SELATAN



Bahan pangan alternatif, adalah sebuah istilah yang biasanya ditujukan kepada sebuah pemenuhan akan kebutuhan pangan pada situasi darurat ataupun dalam kondisi untuk bertahan hidup (survival) yang pada umumnya berasal dari sumber-sumber pangan yang tidak lazim dan terkadang cenderung ekstrim. Namun beberapa bahan pangan alternatif disini tidaklah terlalu ekstrim dan relatif masih dalam batas kewajaran, bahan pangan alternatif ini jauh dari situasi darurat dan bahkan sangat lazim dikonsumsi oleh masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan sebagai menu harian. Beberapa bahan pangan alternatif ini cukup memenuhi kebutuhan asupan pangan yang diperlukan oleh manusia seperti karbohidrat dan protein hewani. Menjadi menarik untuk mengungkap serta mengeksplorasi bahan pangan alternatif di Kalimantan Selatan guna memperkaya khazanah pengetahuan bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan ataupun guna menghadapi situasi darurat untuk bertahan hidup, siapa tahu...

Tanaman Supan Supan, Setangki, Pucuk Tangki; tanaman ini berupa tanaman menjalar yang mirip dengan tanaman Putri Malu (Mimosa pudica Linn) namun tidak berduri, tumbuh di di pinggir-pinggir sungai, di rawa-rawa ataupun tempat-tempat berair lainnya. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan adalah bagian pucuk muda tanaman yang mana termasuk batang tangkai beserta daun-daunnya. Oleh masyarakat Banjar daun supan supan ini dimanfaatkan sebagai bahan sayuran dalam masakan Gangan Asam Banjar (Sayur Asam Banjar) dimana di dalamnya terdapat berbagai macam sayuran seperti Kangkung, batang Keladi, tongkol pisang, Supan Supan, dan bisa ditambah umbi-umbian (keladi atau singkong). Rasa dari daun Supan Supan sebagai sayuran adalah kelat (sepat) namun hanya sedikit atau tidak tajam rasa kelatnya.

Pucuk Waluh (Cucurbita moschata); Labu merupakan anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae), merupakan tanaman menjalar seperti halnya tanaman buah semangka yang sangat lazim dibudidayakan oleh para petani. Tanaman ini utamanya dimanfaatkan buahnya sebagai hasil utama, buah ini dimanfaatkan untuk berbagai bahan makanan seperti kolak labu, cake labu dan lain-lain. Namun demikian oleh masyarakat Banjar juga memanfaatkan pucuk dari tanaman menjalar ini sebagai bahan pangan yaitu sebagai sayuran, meskipun secara kasat mata daun dan pucuk batang waluh ini terdapat seperti bulu-bulu halus yang sepertinya gatal bila disentuh apalagi dimakan. Akan tetapi tidaklah demikian pada kenyataannya, pucuk waluh sangat nikmat bila diolah menjadi bahan makanan baik disantap hanya dengan sambal sebagai lalap setelah direbus terlebih dahulu, ataupun diolah sebagai masakan lain. Urang Banjar biasa memanfaatkan pucuk waluh sebagai bahan sayur dengan dimasak sebagai sayur dengan kuah bersantan bersama dengan buah waluhnya itu sendiri ataupun ditumis pedas. Rasa dari pucuk waluh yang telah dimasak adalah tidak beda dengan sawi hijau namun tanpa rasa pahit.

Mandai (kulit buah Cempedak); buah Cempedak (Artocarpus champeden) adalah jenis buah tropis yang masih satu famili dengan buah nangka, buah ini memiliki aroma yang tajam dan khas. Umumnya buah ini dimanfaatkan daging buahnya sebagai buah segar ataupun olahan, sedangkn bijinya juga dapat dikonsumsi sebagai cemilan setelah melalui proses perebusan ataupun digoreng. Oleh masyarakat Banjar ada bagian lain dari buah Cempedak ini yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan yaitu berupa kulit bagian dalam dari buah ini, bahkan kulit bagian dalam ini lebih dipentingkan daripada bagian lain dari buah Cempedak oleh masyarakat Banjar, oleh masyarakat Banjar kulit bagian dalam ini dinamakan mandai. Mandai secara harfiah adalah hasil awetan kulit buah cempedak, dimana merupakan kulit buah cempedak bagian dalam yang telah direndam dan disimpan beberapa lama dalam larutan air garam. Mandai oleh urang Banjar biasanya dikonsumsi dengan cara digoreng langsung ataupun diolah menjadi semacam tumisan pedas.

Daun Kalakai (Stenochlaena palustris); adalah sejenis tanaman paku-pakuan yang biasa tumbuh liar di rawa-rawa gambut, bagian tanaman Kalakai yang dipakai untuk bahan pangan adalah bagian pucuk yang masih berwarna merah kecoklatan. Umumnya daun Kalakai oleh urang Banjar diolah menjadi sayur bening, ditumis dan lain lain, rasa dari daun Kalakai setelah diolah masakan adalah rasa kelat (sepat) namun lebih ringan bila dibandingkan dengan rasa daun jambu mente. Secara turun temurun, masyarakat memanfaatkan tanaman kalakai untuk tujuan merangsang produksi ASI bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. Hal ini mungkin disebabkan nilai gizi kalakai yang banyak mengandung Fe (Irawan et al., 2003). Unsur Fe diketahui bermanfaat dalam mengatasi masalah anemia, sehingga mengkonsumsi kalakai dapat menambah volume darah, sehingga merangsang produksi ASI.

Buah Karamunting (Melastoma malabathricum); merupakan tanaman semak perdu yang biasa tumbuh liar pada lahan-lahan kering di Kalimantan, tinggi tanaman sekitar 50 cm – 200 cm. Buah Karamunting tidaklah terlalu banyak dicari ataupun dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan Selatan, buah karamunting ini hanya dikonsumsi secara iseng-iseng apabila sedang melintas di belukar terutama oleh anak-anak. Buah ini berukuran lebih kecil dari kelereng dengan bentuk buah bulat lonjong berwarna hijau apabila masih muda dan berwarna ungu tua bila sudah masak dengan mahkota buah pada bagian ujungnya. Daging buahnya berair berwarna ungu dan terdapat banyak biji-biji kecil, rasa dari buah Karamunting ini manis bila sudah masak dengan sedikit rasa masam. Diduga buah Karamunting ini banyak mengandung zat antioksidan yang berguna untuk membuang racun dari dalam tubuh. Dengan sedikit inovasi pada buah Karamunting, bila diolah menjadi selai misalnya, mungkin akan dapat menyerupai selai Blueberry.

Talipuk (Nymphaea Pubescens Willd); dalam bahasa Indonesia Talipuk dikenal sebagai tanaman bunga Teratai yang biasa tumbuh liar di rawa-rawa Kalimantan Selatan. Talipuk merupakan tumbuhan air yang hidup pada suhu 20oC – 30oC. Batang atau rimpangnya tumbuh tegak dalam air. Daunnya bundar lonjong dan bergerigi pada tepinya serta mengapung dipermukaan air. Bunganya ada yang berwarna putih, merah atau merah jambu. Tumbuhan ini berbunga dipermukaan air bisa beberapa kali dalam setahun. Buah berbentuk bundar dengan diameter 4-12 cm. Biji berwarna coklat kehitaman dan tersimpan dalam daging buah. Biji yang tua memiliki kulit ari yang keras dan bila sudah kering dapat diolah menjadi tepung. Pembuatan tepung biji talipuk di buat dari biji yang telah dikupas kulitnya kemudian di giling. Petani dilahan rawa lebak, secara turun temurun memanfaatkan tepung dari biji talipuk untuk di buat berbagai macam kue tradisional, seperti: Kue cincin, pais, pipudak, dodol, wadai baceper dan kue kue lainnya.

Kalangkala (Litsea garciae); termasuk salah satu tanaman khas Kalimantan, sering ditemukan tumbuh liar dan penyebarannya dibantu oleh hewan yang juga menyukai buah ini seperti musang, monyet serta burung enggang. Buah Kalangkala bukan tipe buah meja atau buah yang biasa disantap untuk pencuci mulut seperti pisang, pepaya, atau nenas melainkan disantap sebagai pelengkap nasi seperti halnya ikan. Untuk menikmati buah ini caranya adalah dengan mencuci bersih buah tersebut kemudian di rendam di dalam air hangat (sekitar 70-80 derajat celcius) selama kurang lebih 1 jam jangan lupa di bubuhi garam secukupnya, barulah siap untuk dinikmati. Masyarakat Banjar kerap menikmatinya dengan sambal terasi dan ikan teri asin. Rasa dari buah Kalangkala sendiri agak mirip seperti buah alpokat yang berlemak.

Karariang, Tonggeret; untuk yang satu ini memang tidak lazim dikonsumsi di Kalimantan Selatan, namun untuk mereka para surveyor di hutan, Karariang merupakan makanan alternatif yang dapat dikonsumsi dalam kondisi darurat terutama jenis Karariang Hijau. Mengolah untuk dikonsumsi juga cukup simple yaitu cukup dibuang bagian sayap dan kemudian ditusuk pakai bilah lidi dan kemudian dipanggang di atas bara api, jika sudah berwarna kemerahan itu menandakan sudah masak dan siap dikonsumsi. Karariang atau Tonggeret adalah sebutan untuk segala jenis serangga anggota subordo Cicadomorpha, ordo Hemiptera. Serangga ini dikenal dari banyak anggotanya yang mengeluarkan suara nyaring dari pepohonan dan berlangsung lama. Selain tonggeret, nama lain juga dikenal, biasanya dikaitkan dengan pola suara yang dihasilkan. Orang Sunda menyebutnya Tongeret, orang Jawa menyebutnya garengpung atau uir-uir, tergantung suara yang dikeluarkan.

Haliling, keong sawah (Pila ampullacea); adalah sejenis siput air yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia tropis, seperti di sawah, aliran parit, serta danau. Hewan bercangkang ini dikenal pula sebagai Keong gondang, siput sawah, siput air, atau tutut. Bentuk keong sawah agak menyerupai siput murbai, masih berkerabat, tetapi keong sawah memiliki warna cangkang hijau pekat sampai hitam. Di Kalimantan Selatan Haliling biasanya diolah menjadi masakan Haliling Batanak (Haliling Kuah Santan).

Biji tarap; Terap atau tarap adalah sejenis pohon buah dari marga pohon nangka (Artocarpus). Buahnya serupa nangka yang kecil, dengan bau wangi yang kuat, seperti dicerminkan oleh nama ilmiahnya: Artocarpus odoratissimus. Buah ini juga dikenal sebagai marang (Filipina) atau Johey Oak (Ingg.). Pengecualian: Jenis pohon terap ini tidak sama dengan pohon benda atau bendo (Artocarpus elasticus), yang juga disebut terap (di Serawak) atau teureup (di Jawa Barat). Cara pengolahan biji Tarap menjadi siap konsumsi sederhana, hanya digoreng dengan minyak edikit atau cukup disangrai saja
.


 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar