Kamis, 08 November 2012

KE PALANGKARAYA LEWAT SUNGAI (Seri Sejarah # 8)



“Ka Palangka jalan Banyu...” atau Ke Palangkaraya Lewat Sungai itu kata-kata yang sering kita dengar di era sebelum akhir dekade 90 ‘an, dimana saat itu adalah masa-masa transisi sarana dan prasarana transportasi dari Banjarmasin menuju ibu kota Kalimantan Tengah Palangkaraya. Pada saat itu pembangunan jalan yang menghubungkan antara kota Banjarmasin – Palangkaraya sedang berlangsung, dimana sebenarnya badan jalan itu sendiri sudah terbentuk namun masih belum layak dilewati dengan nyaman menggunakan mobil, dan apabila hujan tiba maka hanya mobil berpenggerak 4 roda saja yang sanggup melintasi jalan tersebut. Jika saat ini waktu tempuh antara kota Banjarmasin – Palangkaraya adalah sekitar 4 jam, maka pada saat itu waktu tempuh dengan kondisi jalan seperti itu dapat menghabiskan waktu 2 kali lipat atau bahkan lebih. Sarana transportasi air sebenarnya telah lama di adaptasi oleh masyarakat di Kalimantan yang mana Kalimantan telah identik dengan sungainya yang besar-besar ataupun rawa-rawa yang luas. Sehingga sarana transportasi air dari berbagai ukuran atau model merupakan sarana harian baik untuk pribadi ataupun keperluan komersial angkutan barang dan penumpang.

Kota Banjarmasin di era tersebut bisa dianggap sebagai gerbang perniagaan di Kalimantan dimana barang-barang pabrikan kebutuhan sehari-hari yang didatangkan dari pulau Jawa akan dibongkar di pelabuhan Banjarmasin dan kemudian diteruskan dengan jaringan distribusi barang, demikian pula sebaliknya barang-barang berupa bahan mentah hasil alam seperti hasil bumi dan produk-produk kayu menuju Jawa akan diangkut dari pelabuhan Banjarmasin. Karena menjadi pusat perniagaan maka kota Banjarmasin menjadi sangat ramai dikunjungi masyarakat yang hendak berbelanja barang baik dari pelosok Kalimantan Selatan sendiri ataupun dari propinsi lain seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Jalur lalu lintas air baik barang ataupun penumpang dari Banjarmasin ke Palangkaraya melalui beberapa jalur sungai; sungai Martapura, sungai Barito, sungai Kapuas dan sungai Kahayan. Dermaga pemberangkatan speedboat dulu terletak di sekitar belakang Bank Mandiri Jl. Lambung Mangkurat, dermaga Tangkalasa ada di sekitar pasar Ujung Murung, sedangkan dermaga bus air ada di dermaga Banjar Raya Jl. Barito Hulu, Pelambuan Banjarmasin Barat yang semuanya berada di badan sungai Martapura. Jalur sungai yang dilalui moda transportasi ini adalah menyusuri sungai Martapura yang bermuara ke sungai Barito di sekitar pelabuhan Trisakti, atau untuk speedboat karena relatif kecil dapat lewat jalan pintas melalui cabang sungai Martapura di sekitar Pasar Lama yang juga bermuara ke sungai Barito di sekitar depo Pertamina. Di sungai Barito menyusur ke bagian hulu hingga sekitar pulau Kambang (jembatan Barito sekarang) masuk ke sebuah anjir (terusan/kanal buatan) yang bernama Anjir Serapat di 3° 13’ 37,30” S - 114° 32’ 36,5” T sepanjang kurang lebih 27 km hingga tembus ke kota Kuala Kapuas yang berada di pertemuan dua sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Katingan, dari pertigaan sungai tersebut masuk menyusuri ke bagian hulu sungai Kapuas melewati Pulau Telo masuk ke Anjir Kelampan di 2° 49’ 16,41” S - 114° 21’ 19,42” T sepanjang kurang lebih 15 km hingga tembus ke sungai Kahayan di sekitar Pelindo Pulang Pisau. Di badan sungai Kahayan ini menyusur ke arah bagian hulu hingga dermaga kota Palangkaraya di sekitar 2° 12’ 13,36” S - 113° 56’ 22, 26” T.

Untuk angkutan barang dan penumpang melalui sungai dari Banjarmasin ke Palangkaraya terdapat 3 jenis angkutan berdasarkan kebutuhan penumpang; (1) speedboat dengan mesin hingga 400 PK berpenumpang 30 orang, biasanya sarana transportasi speedboat ini hanya melayani penumpang saja serta tidak menaikkan atau menurunkan penumpang di tengah jalan, waktu tempuh Banjarmasin – Palangkaraya kurang lebih 5 jam (2) Long Boat atau sering orang menyebut “Tangkalasa” melayani 35 orang penumpang dengan barang bawaan, seperti angkutan umum di darat Tangkalasa akan menaikkan atau menurunkan penumpang di desa-desa ataupun kota yang dilaluinya sehingga waktu tempuhnya jauh lebih lama dibanding dengan speedboat (3) Bus air, dengan kapasitas penumpang hingga 100 orang dengan banyak barang bawaan (dagangan), kecepatan bus air ini jauh lebih lambat bila dibandingkan Tangkalasa atau speedboat ditambah bus air ini juga menaikkan atau menurunkan penumpang di jalan sehingga waktu tempuh dari Banjarmasin – Palangkaraya mencapai puluhan jam.

Seperti layaknya perjalanan jarak jauh antar kota di darat, yang pastinya akan membutuhkan waktu beberapa saat untuk beristirahat untuk penumpang ataupun pengemudi, demikian pula trayek sungai Banjarmasin – Palangkaraya ada beberapa tempat favorit untuk beristirahat penumpang dan motoris (pengemudi speedboat/Tangkalasa/bus air) yaitu di Kuala Kapuas dan di Pulang Pisau yang mana keduanya masuk dalam wilayah Kalimantan Tengah. Tempat beristirahat tersebut berupa rumah lanting terapung di tepi sungai yang berfungsi sebagai tempat makan yang menyediakan berbagai kuliner sungai khas Kalimantan seperti pais baung/patin, gangan asam baung/patin, udang dan berbagai jenis ikan bakar ataupun goreng.

Di masa itu lalu lintas sungai masih sangat ramai sehingga geliat bisnis transportasi sungai menjadi sangat maju yang diikuti bisnis-bisnis lain dari warung makan terapung, kios BBM terapung, dan lain-lain. Kini seiring dengan semakin lancarnya jalur jalan darat & jembatan yang menghubungkan Banjarmasin dan Palangkaraya semakin surut pula ramainya kegiatan bisnis di jalur sungai tersebut termasuk matinya bisnis ferry penyeberangan yang dikelola ASDP ataupun masyarakat untuk menyeberangi 3 sungai (Barito,  Katingan & Kahayan). Di satu sisi masyarakat merasa senang dengan lancarnya arus lalu lintas jalan raya yang dapat mempersingkat waktu perjalanan dengan biaya lebih murah, namun sebaiknya jalur sungai dapat tetap dipertahankan sebagai jalur alternatif yang paling tidak setara dari segi biaya sehingga masyarakat masih mau menggunakan jalur tersebut.

Selasa, 31 Juli 2012

SOTO BANJAR (Seri Kuliner #2)



Kesultanan Demak yang memperkenalkan Islam pada Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan juga mewariskan resep kuliner berupa soto yang sedap, silahkan mencoba (untuk 8 orang).

Bahan
  • 1/2 ekor ayam kampung, potong-potong
  • 1 ½ sdm garam
  • 2 liter air
  • 2 lembar daun salam
  • 3 cm jahe, memarkan
Haluskan
  • 10 butir bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 1 sdt merica butir
  • 3 buah kapulaga
  • 3 cm kayumanis
  • 4 butir cengkih
  • ½ buah pala
  • 100 gram soun kering, seduh air panas, tiriskan
  • 4 butir telur rebus, belah dua
  • 6 buah perkedel kentang
  • 1 batang daun bawang, iris halus
  • 2 batang seledri, iris halus
  • 3 sdm bawang goreng, untuk taburan
Pelengkap
  • 2 buah jeruk nipis, belah-belah
  • Kecap manis
  • Ketupat secukupnya
Cara membuat
·         Rebus ayam bersama garam, daun salam, dan jahe sampai empuk dan matang. Angkat dan suwir dagingnya. Sisihkan. Didihkan air kaldu dengan api kecil untuk kuah soto.
·     Tumis bumbu halus, kapulaga, kayumanis, cengkih, dan pala sampai harum dan matang. Angkat dan masukkan tumisan kedalam kaldu mendidih. Didihkan sekali lagi.
Atur ketupat, soun, perkedel, telur, dan ayam suwir didalam mangkuk. Siram dengan kuah soto yang masih panas. Taburkan daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Beri kecap dan air jeruk nipis.

KATUPAT KANDANGAN (SERI KULINER #1)


Kandangan atau Hulu Sungai Selatan adalah salah satu kabupaten yang terdapat di Kalimantan Selatan. Selain terdapat oyek wisata alam Loksado dengan bamboo rafting nya yang terkenal itu, ada satu jenis kuliner lokal yang cukup populer yang layak untuk dicoba yaitu Katupat Kandangan. Berikut ini resep Katupat Kandangan untuk 6 porsi.



Bahan :
* 6 buah ketupat, dipotong-potong
* 750 gram ikan gabus segar, dibuang kepalanya
* 1 sendok teh asam jawa
* 1 sendok teh garam
* 1 sendok teh air jeruk nipis
* 5 lembar daun jeruk, disobek-sobek
* 2 batang serai, dimemarkan
* 1.500 ml santan dari 1 butir kelapa
* 6 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus :
* 10 butir bawang merah
* 4 siung bawang putih
* 3 butir kemiri
* 1/2 sendok teh ketumbar
* 1 cm jahe
* 3 cm kunyit
* 1/4 sendok teh merica
* 1/2 sendok teh terasi
* 4 3/4 sendok teh garam
* 1 cm lengkuas
* 1/8 sendok teh jintan
* 2 sendok teh gula pasir

Bahan sambal :
* 5 buah cabai merah
* 2 buah cabai rawit
* 1/2 sendok teh terasi goreng
* 1 buah tomat
* 1/2 sendok teh garam
* 1/4 sendok teh merica
* 2 sendok makan minyak untuk menumis

Cara membuat :
1. Lumuri ikan dengan asam jawa, garam, dan air jeruk nipis.
2. Diamkan 45 menit.
3. Panggang ikan di bara api sampai matang.
4. Tumis bumbu halus, daun jeruk, dan serai sampai matang.
5. Tuang santan lalu didihkan.
6. Masukkan ikan gabus. Rebus sampai bumbu meresap.
7. Sajikan dengan ketupat.
8. Sambal, goreng cabai, terasi, bawang merah, dan tomat sampai harum.
9. Angkat lalu tambahkan garam, dan merica. Haluskan.
10. Sajikan dengan ketupat kandangan.

Kamis, 19 Juli 2012

ULIN DALAM KESEHARIAN URANG BANJAR


Kayu Ulin atau kayu besi berasal dari suatu jenis pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang merupakan flora endemik Kalimantan, mungkin adalah sebuah harmoni alam apabila di bumi Kalimantan ini pohon ini banyak ditemukan. Karena  pohon Ulin yang ditemukan di hutan-hutan tanah kering perbukitan Kalimantan banyak memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah di sekitar sungai, rawa-rawa ataupun bagian hilir sungai yang berdekatan dengan muara.

Karena sifat fisik kayu Ulin yang unggul seperti keras/kuat, tahan air serta tahan rayap menjadikannya sangat cocok untuk konstruksi di wilayah berair. Manfaat utama dari sosok pohon Ulin adalah pemanfaatan kayunya untuk berbagai macam kebutuhan seperti kebutuhan konstruksi (rumah, jembatan) ataupun alat transportasi air. Keawetan kayu Ulin ini sebagai bahan konstruksi bangunan sudah tidak diragukan lagi, kayu Ulin ini mampu bertahan hingga ratusan tahun tanpa mengalami kerusakan yang berarti.

Yang paling menonjol dalam pemanfaatan kayu Ulin dalam keseharian urang Banjar adalah digunakannya kayu Ulin sebagai bahan konstruksi utama pembuatan rumah tinggal ataupun bangunan. Ciri utama dari konstruksi rumah Banjar adalah bentuk rumah panggung, konstruksi rumah panggung ini tak lepas dari kondisi geografis dan histori pemukiman urang Banjar yang umumnya berada di tepian sungai yang notabene sering digenangi air. Dan sebagai bahan konstruksi yang paling pas untuk rumah panggung di daerah yang sering digenangi air adalah kayu Ulin, utamanya sebagai bahan konstruksi pondasi rumah berupa tiang-tiang pancang, lantai serta atap rumah yang berupa sirap Ulin. Hampir semua konstruksi bangunan di Kalimantan Selatan sebelum era tahun 90 an masih menggunakan kayu Ulin sebagai bahan dasarnya. Karena sifatnya yang tahan air maka kayu Ulin ini juga dimanfaatkan sebagai alat transportasi air sejak jaman dahulu hingga kini oleh masyarakat Banjar, seperti sampan (jukung) ataupun kapal-kapal sungai (bus air).

Beberapa tempat hingga saat ini masih menggunakan nama Ulin sebagai rujukan karena awal mulanya tempat-tempat tersebut menggunakan kayu Ulin sebagai bahan utama bangunan fisiknya seperti; rumah sakit Ulin (kini RSUD Ulin) yang merupakan rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan konon dahulunya merupakan rumah sakit yang seluruhnya dibangun menggunakan bahan kayu Ulin, ataupun landasan Ulin (kini Bandara Samsudin Noor) dulu dibangun oleh balatentara Belanda, karena sifat fisik tanah yang labil maka balatentara Belanda membuat landasan pacu pesawat yang diperkuat dengan balok-balok kayu Ulin.

Rabu, 18 April 2012

DARI MEKATANI, PULAU BERUANG DAN PENANGKARAN BUAYA (Seri Sejarah # 7)



Ibarat sebuah rumah tangga maka sang kepala rumah tangga harus mampu memenuhi kebutuhan pokok akan pangan kepada anggota keluarganya. Demikian pula dengan kondisi negara Indonesia ketika itu yang baru saja merdeka dan sedang belajar mandiri untuk mengelola ‘keluarga’ sendiri termasuk dalam urusan pemenuhan kebutuhan akan pangan terhadap rakyatnya. Dalam hal urusan pemenuhan kebutuhan pangan, maka sektor kunci yang harus diperkuat adalah sektor pertanian.

Keprihatinan para pemimpin negeri ini akan pemenuhan kebutuhan pangan untuk rakyat saat itu dituangkan dalam Undang Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1959 Tanggal 14 Januari 1959 Tentang Badan Perusahaan Produksi Bahan Makanan Dan Pembukaan Tanah. Undang-undang ini dibuat atas latar belakang kondisi negara saat itu yang digambarkan dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,7% per tahun, meningkatnya konsumsi beras sebesar kurang lebih 85 kg/jiwa/tahun sebelum perang dunia kedua menjadi 95 kg/jiwa/tahun paska perang, serta beban deviden negara atas impor beras yang semakin tinggi. Pada intinya undang-undang darurat ini adalah tentang pembentukan sebuah badan usaha milik negara yang diberi tanggung jawab untuk mengatasi masalah pangan di dalam negeri. Perusahaan negara ini dikenal dengan Badan Perusahaan Produksi Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (BMPT), badan ini memiliki tugas pokok: (a) intensifikasi produksi bahan makanan, dalam bentuk padi centra, (b) produksi bahan makanan di tanah kering, dalam bentuk perusahaan pertanian sendiri dan dalam bentuk perusahaan pembukaan tanah untuk rakyat (c) pembukaan tanah pasang surut.

BMPT dalam menjalankan fungsinya akan melaksanakan 3 hal pokok yaitu memproduksi & mendistribusikan benih-benih padi berkualitas, memproduksi sarana produksi pertanian (pupuk dan pestisida) atau yang dikenal dengan istilah intesifikasi pertanian serta menyediakan alat-alat mekanisasi pertanian guna perluasan/ekstensifikasi lahan pertanian. Khusus untuk ekstensifikasi mekanis lahan pertanian direncanakan akan disediakan unit-unit traktor pertanian oleh pemerintah yang akan digunakan untuk membangun 20 unit perusahaan pertanian pemerintah di seluruh nusantara yang masing-masing unit direncanakan memiliki luas 10.000 ha ditambah pembukaan 100.000 ha lahan baru bagi rakyat pada sekitar masing-masing unit. Dan dalam tahun 1959 itu pula sebagai langkah awal akan dibangun 3 pusat unit yaitu di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Sebenarnya isu akan perluasan lahan pertanian melalui proyek mekanisasi pertanian ini sebenarnya telah berkembang sebelum Undang-Undang Darurat No 1 tahun 1959 tersebut, karena sebelumnya telah dilakukan terobosan-terobosan yang dilakukan; diawali dengan pemindahan dan pemanfaatan mesin-mesin mekanisasi pertanian peninggalan Belanda dari Sekon Timor Timur ke Jawa tahun 1946, kemudian tahun 1950 didirikan pool-pool traktor yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, serta usaha mendapatkan mesin baru melalui skema kredit pinjaman luar negeri guna pembelian unit-unit traktor. Diantaranya adalah memo yang dikirim oleh menteri pekerjaan umum yang saat itu dijabat oleh Ir. Pangeran Mohamad Noor kepada James Baird seorang Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri Amerika Serikat (ICA), memo itu dikirim pada bulan Juni 1958; “The cabinet, in its efforts to increase agriculture production is making extensive plans to bring new lands into production and need mechanical equipment. I am coming to you as a friend and not as a minister to ask if US will sell us 500 tractors on credit. We know you and Russia are the only nations in position to supply such a number quickly and we want American equipment. In making this request we are not asking your opinion as to what you think of the program—details such as exact plan aplication, technical help and financing can be dealt later. Our resources are adequate to service a loan and we are prepared to take risks and even material losses in embarking this program—But embark upon it we will, with or without your help” Namun ternyata kemudian pihak Amerika Serikat memberikan respon negatif dengan menolak memberikan bantuan kredit seperti yang disebutkan dalam memo tersebut.

Mekatani adalah anak perusahaan BMPT yang dibentuk bersama-sama Padi Centra berdasarkan Undang Undang Darurat No 1 Tahun 1959, Mekatani memiliki mandat usaha dari pemerintah guna membuka lahan-lahan baru pertanian di luar Jawa sedangkan Padi Centra memiliki mandat usaha untuk memproduksi dan mendistribusikan benih padi berkualitas serta sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida. Pembentukan perusahaan Mekatani dikukuhkan dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 1961 Tanggal 29 Maret 1961Tentang Pendirian Perusahaan Pertanian Negara Kesatuan Kalimantan Selatan, dimana dalam PP ini disebutkan tentang jumlah modal sebesar Rp. 96.894.000, tempat & kedudukan di Kalimantan Selatan serta tujuan lapangan usaha. Peraturan Pemerintah ini kemudian ada perubahan dan tambahan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1963 Tentang Perubahan Dan Tambahan Peraturan Pemerintah No 33, 34, 38, 39, 40, 41 Dan 43 Tahun 1961 Tentang Pendirian Perusahaan Pertanian Negara, Kesatuan-Kesatuan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan/Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Dalam PP No 14 tahun 1963 disebutkan bahwa unit perusahaan pertanian negara di Kalimantan Selatan disebut sebagai Perusahaan Mekanisasi Pertanian Negara III atau disingkat Mekatani III. Porsi permodalan Mekatani I (Sumut) Rp. 126.445.000, Mekatani II (Sumsel) Rp. 132. 298.000 dan Mekatani III (Kalsel) Rp. 133.622.000 jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Mekatani IV (Kalbar), Mekatani V (Kalteng), Mekatani VI (Sulawesi Tenggara) dan Mekatani VII (NTT) yang hanya pada kisaran di bawah Rp. 20.000.000. Hal tersebut dapat dipahami karena Sumut, Sumsel dan Kalsel merupakan proyek rintisan pertama mekanisasi pertanian di Indonesia.

Namun sayang dalam operasionalnya ternyata Perusahaan Mekanisasi Pertanian Negara tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan karena berbagai kendala teknis seperti tidak sesuainya peralatan mekanisasi dengan kondisi lapangan, kesulitan untuk mendapatkan suku cadang peralatan karena sebagian peralatan didatangkan dari negara Eropa Timur (Chekoslovakia) serta kendala keahlian tenaga lokal untuk maintenance dan operasional. Sehingga perusahaan negara ini dianggap tidak layak secara ekonomis dan secara konstitusional dibubarkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 75 Tahun 1971 Tentang Pembubaran Badan Pimpinan Umum Perusahaan Mekanisasi Pertanian Negara Dan Perusahaan-Perusahaan Negara Dalam Lingkungannya.

Tidak ditemukan catatan apapun mengenai proyek besar mekanisasi pertanian ini di Kalimantan Selatan tentang jenis & berapa unit traktor yang pernah beroperasi ataupun berapa luas areal persawahan yang telah dibuka dalam kurun waktu 1963 – 1971 tersebut, kecuali hanya kawasan eks proyek Mekatani di Kalimantan Selatan. Kawasan eks proyek Mekatani di Kalimantan Selatan berada di Jalan A Yani Km 29 Landasan Ulin Banjarbaru. Paska pembubaran Mekatani di Kalimantan Selatan tahun 1971, unit-unit traktor eks Mekatani di Banjarbaru sempat dimanfaatkan oleh seorang pengusaha saw mill dari Alalak bernama Nunci Masaid dengan merubah motor traktor menjadi mesin saw mill, dan dari usahanya tersebut cukup berhasil mendongkrak produksi kayu gergajian yang membuat pengusaha tersebut mampu untuk melayani permintaan pasar kayu gergajian di Jakarta dan Surabaya.

Bagi warga senior Banjarbaru tentu sangat mengenal akan kawasan eks Mekatani di Km 29 atau sebagian warga menyebutnya Pulau Beruang, ada cerita mengenai kawasan tersebut juga dikenal sebagai Pulau Beruang; sekitar tahun 80 an adalah keluarga Munawi yang tinggal di kawasan eks Mekatani dimana Munawi bekerja sebagai tenaga keamanan pada PT. Daya Sakti Group yang mengelola kawasan eks Mekatani tersebut memiliki dua ekor beruang madu, beruang-beruang tersebut dipeliharanya sejak bayi. Yang uniknya kedua beruang madu tersebut tumbuh besar atas perawatan sang isteri yang secara ikhlas menyusui secara langsung kedua beruang tersebut hingga tumbuh besar, mungkin karena keunikan cerita ada orang menyusui bayi beruang yang tersebar dari mulut ke mulut hingga ramai orang berdatangan untuk menyaksikannya maka dikenal lah kawasan eks Mekatani tersebut dengan sebutan Pulau Beruang.

Kawasan eks Mekatani sejak dibubarkannya perusahaan negara tersebut, kawasan ini dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kehutanan dan perkebunan yaitu PT. Alas Watu Utama (AWU) yang merupakan anak perusahaan PT. Daya Sakti Group. Disamping mengelola usaha kehutanan dan perkebunan PT. AWU juga memiliki bidang usaha penangkaran satwa diantaranya adalah rusa, ikan dan buaya. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penangkaran satwa yang dilindungi (buaya) tentu saja terdata dan dimonitor oleh Dirjen Pengusahaan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan Republik Indonesia, yang mana menurut penilaian Dirjen PHKA penangkaran buaya PT. AWU dalam kondisi yang tidak terawat dengan baik hingga perlu tindakan penyelamatan buaya-buaya tersebut. Maka pada pertengahan tahun 2011 lalu dilakukan evakuasi 85 ekor buaya dari penangkaran PT. AWU ke lokasi perusahaan penangkaran lain yaitu sebanyak 40 ekor buaya dipindahkan ke kolam penangkaran milik seorang pengusaha batubara di Tanah Bumbu Kalimantan Selatan dan sebanyak 45 ekor dipindahkan ke penangkaran buaya milik pengusaha penangkaran di Tangerang Banten. (EN, dari berbagai sumber)



 

Minggu, 01 April 2012

KILAU 'INTAN' BANJAR

Dunia seleberiti sangat dekat dengan gemerlap dunia hiburan yang glamour dan menjadi pusat perhatian khalayak. Kiprah beberapa orang banua ini di dunia hiburan nasional telah menjadikan mereka sebagai idola bagi sebagian masyarakat. Sumber informasi didapatkan dari Wikipedia dan beberapa sumber lain.

Gusti Erhandy Rakhmatullah (lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Maret 1980; umur 32 tahun) atau yang lebih dikenal dengan panggilan Hendy Gigi adalah seorang penabuh drum dari grup musik Gigi. Hendy yang asli berdarah Banjar ini mulai dikenal masyarakat luas saat bergabung dengan Gigi pada tahun 2005, tepatnya pada album Next Chapter. Pertama kali mulai mengenal perangkat drum saat masih kanak-kanak di Banjarmasin, ketika itu rumahnya sering digunakan untuk latihan band oleh kakaknya. Hendy yang waktu itu masih duduk di kelas empat SD (1989) ingin sekali berguru pada Gilang Ramadhan. Sayang sekali karena padatnya jadwal Gilang, Hendy hanya berkesempatan belajar pada asisten Gilang yaitu Lemmy Ibrahim di Farabi Indra Lesmana Workshop (sekolah musik yang dikelola Indra Lesmana saat itu). Ada cerita unik sewaktu Hendy sedang melakukan les drum di Farabi. Ketika sedang berkonsentrasi di salah satu kelas, tiba-tiba ada yang menjenguk. Si penjenguk menyapa Hendy kecil dan berkata “Sini gua gitarin”. Kayaknya sang gitaris menyukai penabuh drum kecil karena pada saat itu permainan drumnya sudah cukup piawai. Maka terjadilah sebuah jam session kecil-kecilan antara Hendy dan gitaris tadi. Saat itu juga ada Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan di tempat tersebut. Belakangan baru ketahuan kalo pemain gitar tadi ternyata adalah Dewa Budjana [1](waktu itu Gigi belum terbentuk). Unik dan lucu ketika dua musisi yang satu masih anak-anak berumur 9 tahun dan satunya sudah berumur 26 tahun pada saat itu bertemu dan main bersama. Dan setelah lima belas tahun kemudian, dua orang itu bermain bersama di GIGI.


Terry Naharyana Enani Putri (lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 1 Desember 1979; umur 32 tahun) adalah seorang presenter televisi, bintang iklan, aktris dan pembawa acara di tanah air. Ia bertinggi badan 158 cm dan beragama Islam. Ia adalah anak ketiga dari pasangan H. Yusrip Enaniey (alm) dan H. Tiny Yusrip, kakak laki-lakinya bernama Eka Yulianda Enani Putra dan sudah menikah dengan wanita yang bernama Julita. Juga mempunyai kakak perempuan yang bernama Dewi Oktaviana Enani Putri dan sudah menikah dengan Irwan Wahdi serta mempunyai adik perempuan yang bernama Jeananiey Adinda Putri. Terry sempat menjalin hubungan dengan Aldi Bragi, namun hubungan ini kandas. Mei 2009, Terry resmi memiliki kekasih baru, yakni Rully Johan, seorang teman lamanya. Mengawali karier sebagai model dan bintang iklan, Terry menyelesaikan kuliah terlebih dulu, baru menerima job sinetron & menjadi host TV.

Fatur yang memiliki nama lengkap Faturachman (lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan, 16 Desember 1968; umur 43 tahun) adalah penyanyi dan aktor Indonesia. Fatur juga dikenal sebagai Fatur Java Jive karena selama 10 tahun, Fatur menjadi vokalis grup band Java Jive. Fatur memasuki dunia hiburan bersama grup musik Java Jive sebagai vokalis. Namun setelah mengeluarkan empat album bersama Java Jive, yaitu Kau yang Terindah, Gerangan Cinta, Buah Hati, dan Dia, Fatur memilih mengundurkan diri pada Mei 2000. Pada tahun yang sama, nama Fatur juga melejit berkat lagu "Kulakukan Semua Untukmu" berduet dengan Nadila di album kompilasi Love 2000. Sebelum berpisah dari Java jive, Fatur pernah mengeluarkan album solo perdananya, Selalu untuk Selamanya (1997). Album kolaborasi Fatur dan Capung, gitaris Java Jive ini sukses di pasaran. Tahun 2003, Fatur-Capung kembali berkolaborasi dalam album solo kedua Fatur, Kisah Kita. Setelah merilis album keduanya, tahun 2006 Fatur bergabung kembali dengan teman-temannya di Java Jive, Danny, Noey, Tony, dan Edwin merilis album 1993-2006. Hanya ada tiga lagu baru di album tersebut, yaitu "Cantik Tapi Menyakitkan", "Yang Aku Cinta", dan "Pagi Merah", sedangkan 13 sisanya adalah lagu-lagu mereka yang telah menjadi hits. Tak hanya menyanyi, Fatur juga menjajal layar lebar dengan bermain dalam film garapan Garin Nugroho, Sutan Syahrir

Febiolla Ramlan (lahir di Banjarmasin, 15 Februari 1980; umur 32 tahun) atau lebih dikenal luas dengan nama Olla Ramlan, adalah seorang model dan pemeran Indonesia. Ia mengawali kariernya sebagai finalis ajang pemilihan Cover Girl Mode tahun 2007. Karirnya di dunia entertainment dimulai berkat andil kakaknya Lolitha Ramlan, yang mengirimkan formulir untuk ajang pemilihan tersebut. Olla sukses menjadi juara favorit. Tawaran bermain sinetron dan bintang iklan lalu berdatangan. Olla Ramlan yang memulai karier dengan menjadi model, kemudian melanjutkan dengan merambah dunia seni peran dengan bermain dalam beberapa judul sinetron. Ia tampil apik dalam sinetron Shakila, serta membintangi sebuah iklan kopi yang dialognya hingga kini masih diingat pemirsa dengan "Pagi Donna". Pada November 2010, Olla resmi ditunjuk sebagai duta merek Yahoo OMG!.

Iandhika Mulya Ramadan lebih dikenal sebagai Ian Kasela (lahir di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 September 1976; umur 35 tahun) adalah vokalis grup band radja. Bersama kakaknya, Moldy, dan temannya, Shuma dan Adit membentuk band ini pada 17 Maret 2001. Mei 2003, personel band mereka berubah menjadi Ian, Moldy, Indra, dan Seno hingga saat ini. Namun pada awal April 2010,Indra dan Seno memutuskan untuk keluar dari Radja. Maka band ini pun bubar sejak hari itu. Perjuangan Ian menjadi tenar seperti sekarang merupakan perjalanan yang panjang. Hanya berbekal kemampuan vokal, Ian pun hijrah ke Jakarta setelah lulus SMA tahun 1993, menyusul kakaknya, Moldy. Moldy tinggal di Jakarta sejak tahun 1990 dan menjadi additional player serta pengatur sound di grup musik terkenal saat itu, U Camp. Keberuntungan menghampiri Ian, U Camp membutuhkan backing vocal dan Ian ditawari untuk mengisinya.

Setelah 3 tahun menjadi penyanyi latar, dan seorang produser melihat potensi suara Ian dan menawarinya untuk rekaman. Album pertama Ian, "Tak Mau Sendiri" berisi 10 lagu yang diproduseri oleh Metrotama Record beredar di pasaran. Sayang karena kurangnya promosi, album ini tak seperti yang diharapkan. Tak patah semangat, setahun kemudian, tahun 1997, Ian masuk dapur rekaman kembali dan mengeluarkan album keduanya "Melayang" berisi 10 lagu yang diproduksi Gita Gemilang. Ian juga rekaman album kompilasi bertajuk "Cinta Negeri Serumpun" (1997) yang diproduksi Satria Kurnia Utama Record. Dalam salah satunya lagu, Ian duet dengan lady rocker era 80 an, Sylvia Saartje. Penjualan kedua album ini juga bernasib sama seperti album perdananya.

Ian memutuskan untuk jeda sejenak dari dapur rekaman, dan mengikuti Moldy bermain di kafe-kafe. Pada tahun 2001, Ian dan Moldy dengan mengajak serta Shuma dan Adit membentuk radja pada 17 Maret 2001. Mereka rekaman album perdana bertajuk “Lepas Masa Lalu“ dengan hitsnya "Biar Aku Menjagamu". Sayangnya album perdana radja tak dapat didistribusikan dan dipormosikan secara maksimal akibat masalah internal yang mendera Universal Music Indonesia, tempat radja bernaung.

Pertengahan 2002, Shuma dan Adit memutuskan keluar dari radja. Posisi mereka digantikan oleh Indra (bassist) dan Seno (drummer) sejak Mei 2003. Dengan formasi baru, mereka masuk dapur rekaman lagi. Album kedua bertajuk "Manusia Biasa" dengan lagu hits “Cinderella“ dan “Jujur" diproduksi Malta Music Indonesia. Album kedua radja lagi-lagi tidak dapat diedarkan secara maksimal. Hal ini membuat radja memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja sama mereka yang saat itu berakhir pada tahun 2004.

Akhir tahun 2004, radja bergabung dengan EMI Music Indonesia. radja pun meluncurkan album repackage yang diberi judul “Langkah Baru“, berisikan lagu-lagu mereka di album sebelumnya ditambah dengan 3 buah lagu baru, pada awal tahun 2005. Tak dinyana album ini begitu meledak di pasaran dan meraih Golden Award untuk penjualan kaset di atas 75.000 kopi. Keberhasilan ini diikuti oleh keberhasilan album radja berikutnya, "Aku Ada Karena Kau Ada" (2006), "1000 Bulan" (2006), "Untuk Semua" (2007). Selain menyanyi, Ian juga pernah bermain dalam sebuah film televisi (FTV)